NetMon memantau tiga MikroTik inti dan seluruh server Proxmox Politeknik Negeri Sambas setiap 10 detik, lalu menuliskan diagnosis yang bisa langsung dikerjakan teknisi: jalur mana, port mana, dan apa penyebabnya.
Port ether3-HOTSPOT tidak ada sinyal fisik sejak 14:02:17. Cable-test: keempat pair terbuka di ±37 m.
Cek kabel di sekitar 37 m dari rak server; 214 pengguna hotspot terdampak.
Setiap MikroTik punya pemeriksaan sendiri, karena masalah yang biasa muncul di router load balance berbeda dengan di router hotspot.
Gerbang internet kampus dengan beberapa ISP.
Mahasiswa, staf, dan access point di gedung-gedung.
Router di atas cluster Proxmox, tempat server ini terpasang.
Sistem tidak berhenti di “perangkat down”. Ia menelusuri jalur dari server monitoring dan memeriksa port di sisi yang masih hidup.
Semua perangkat di-ping paralel; router dibaca lewat API-SSL dengan akun read-only.
Perangkat down pertama di jalur dianggap sumber masalah, yang di belakangnya ditandai dampak.
Port NO-LINK berarti kabel putus atau perangkat mati total; port UP berarti perangkat hang atau IP bermasalah.
Alarm muncul di layar ruang server dan Telegram, lengkap dengan langkah pengecekan.
Aplikasi ini memegang akses ke router inti, jadi setiap lapisan dianggap bisa jebol dan lapisan berikutnya tetap menahan.
Panel dan layar NOC hanya terbuka dari subnet internal yang diizinkan.
Penguncian akun bertahap dan blokir IP setelah percobaan gagal berulang.
HttpOnly, SameSite=Strict, terikat browser & IP, kedaluwarsa otomatis.
Setiap aksi diverifikasi token; skrip asing diblokir Content-Security-Policy.
Password API MikroTik dan token bot disimpan dengan libsodium.
Akun monitoring tidak bisa mengubah konfigurasi dan hanya menerima koneksi dari server ini.
Login, perubahan perangkat, dan penanganan insiden tercatat dengan IP.
Layar NOC memakai token kiosk khusus yang hanya bisa membaca.